Jangan Jual Tristan

Posted: September 18, 2010 in sinopsis sebuah buku

Jangan Jual Tristan

Suryani  merupakan seorang pengemis yang hanya meminta belas kasihan teman-teman serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Suryani berasal dari tegal. Setiap hari kerjanya hanya meminta-minta serta merepotkan orang saja.Suatu kejadian pun terjadi pada Suryani, Suryani pun hamil.Kini ia sedang mengandung.Dengan ia mengandung seorang anak hasil di luar pernikahan, makin menambah cobaan yang diterima Suryani.Kini ia harus mencari biaya melahirkan anaknya itu dengan mengemis dan meminta belas kasihan orang-orang.

Awal dari kejadian ini adalah  saat ia masih bekerja disebuah pabrik garmen. Ia merupakan satu dari ribuan buruh-buruh yang bekerja serentak bak robot, menjahit helai demi helai jaket yang akan dikirim ke Jepang atau Malaysia.Pukul sepuluh malam baru ia pulang, ketika oaring-orang sudah bersemayam di balik selimut.Tak jarang pemuda-pemuda gang tempat ia tinggal di Pondok Cabe, Ciputat, mengatainya kupu-kupu malam.

Yani tekun, menunggu rupiah demi rupiah yang tak seberapa setiap tanggal 5 dan 20 tiba bulan itu dan bulan-bulan kemarin. Wajah garang pemilik pemilik kontrakan yang menagih sewa, tadah tangan sanak saudara serta keluarga di desa, perut yang terus bersuara, hanya itu yang ada di benaknya setiap bulan.Selebihnya, Supardi. Ia sopir yang selalu bangga membawa taksi hingga ke depan pintunya, seolah milik sendiri. Parasnya tampan meski dengan tubuh agak gemuk. Yang paling mempesona adalah sikapnya yang ramah lagi dewasa. Setiap kali berpapasan, lelaki itu selalu memangil Yani dengan sebutan ‘dek’ plus tekanan yang khas pada huruf ‘D-nya’. Mereka selalu berpapasan dan mereka saling jatuh hati. Lalu mereka bersatu hingga ke balik pintu, memori manis sekaligus pahit yang ingin Yani kubur dalam-dalam. Sapardi masih khas tekanan bicaranya ketika mengucap kata ‘tanggung jawab’ sehabis mereguk kenikmatan tak pantas itu. Suryani dan Supardi pun bersetubuh malam itu.

Malam itu dan malam-malam setelahnya, lelaki itu selalu berbisik kepada perempuan di pelukkannya tentang keluarganya dilampung yang akan segera ia beri tahu dan tentang keinginannya untuk segera menyunting perempuan itu. Bercerita pula ia tentang tabunganya yang mulai bertambah, tentang keinginannya untuk melibatkan perempuan itu dalam melukis hari depannya. “Aku menyayangimu, Dek,” suaranya masih mantap sekalipun persetubuhan itu sudah berulang. Perempuan itu semakin larut dalam percayanya. Suryani percaya seratus persen kepada Supardi bahwa ia akan bertanggung jawab jikalau Suryani mengandung dan hamil.

“Mas, aku mengandung anakmu. Sudah tiga minggu aku telat,” Suryani tidak melanjutkan kalimatnya yang bingung, berharap lelaki itu mengerti keinginan hatinya. Tapi Supardi berkelit. Ia harus bekerja, katanya. Problem ini terlalu pelik untuk dibicarakan sekarang. Yani terima saja ketika lelaki itumenghilang dengan taksinya setelah berjanji akan membicarakannya jika esok tiba. “Aku harus ke Pekan Baru, Dek. Ada panggilan kerja. Tiga hari aku kembali,” ia bicara, sehari setelah Yani bertutur tentang kehidupan yang mulai tumbuh di dinding rahimnya. Tiga hari itu kini telah menjadi tiga hari yang keseribu yang Yani tunggu, namun laki-laki itu tak pernah sekalipun datang dan menengok kabar Suryani.

Lama ia menanti ayah janinnya itu sampai akhirnya tiba saat di mana ia memutuskan untuk berhenti menunggu. Sejak it uterus terjadi pergulatan batin, bahkan kedua tanganya tak pernah lagi berani tengadah untukmeminta.Wajahnya tak pernah lagi memandang ke atas dan memohon. Mulutnya terkinci dan tak tega mengucap doa. Hatinya meraung mengharap ampun, tetapi ia merasa terlalu hitam untuk menjawab panggilan azan. Yani hanya mengucap nazar: mudigah yang berdenyut dirahimnya akan ia pelihara dengan cinta, akan ia besarkan dengan saying.

Ketika Suryani telah hamil tua, ia pun tergeletak pingsan dipinggir jalan dan ditolong seseorang untuk mengantarkannya ke rumah sakit.Ketika sadar, ia merasa bingung mengapa ia ada di rumah sakit.Seorang suster pun datang dan bertanya “Bagaimana keadaan ibu saat ini?” suster itu menjelaskan bahwa Suryani telah pingsan dan kandunganya sempat terbentur sehingga air ketubannya pecah.Suster juga mengatakan bahwa Suryani harus melahirkan dan menanyakan jaminan Biaya untuk melahirkan anaknya itu.Suryani pun menjawab bahwa ia tidak punya uang, tetapi ia memohon-mohon kepada suster agar ia tetap melahirkan anak itu.

Suster itu pun bertanya apakah Suryani ada saudara untuk membantunya dalam biaya melahirkan ini. Suryani pun menjawab bahwa ia tidak ada saudara dan ia juga tidak memiliki surat keterangan orang miskin, jadi ia tidak punya jaminan apa pun.Namun suster tersebut memberikan sebuah solusi, bahwa ada seorang ibu yang ingin membantu Suryani dengan sebuah syarat yang di ajukan ibu tersebut.

Keesokan harinya ibu itu pun menemui Suryani. Suster pun mengantar ibu itu untuk menemui Suryani. Suryani pun merasa senang atas kedatangan ibu yang bagaikan ‘malaikat’ bagi Suryani.Suryani pun mengungkapkan rasa berterimakasihnya dengan mau melakukan dan memenuhi persyaratan apa pun.Ibu itu pun merespon dengan baik, namun ia agak berat untuk mengatakan persyaratan yang telah ia buat. Dengan berat hati ibu itu menyampaikan syaratnya bahwa ketika anak itu lahir, anak itu akan menjadi milik ibu itu.Ketika mendengar hal itu Suryani merasa bingung.Pergolakan batin pun terjadi.Ia tak penah menyetujuinya, namun dengan sedikit anggukan sudah memberikan jawaban bagi ibu itu.

Afrinaldi merupakan seorang pria ‘milik’ negara yang peduli dan terusik untuk membongkar beberapa jaringan perdagangan anak Indonesia. Banyak sindikat perdagangan anak yang telah dibongkar olehnya seperti sindikat perdagangan anak yang mengenakan jubah Yayasan Pancaran Kasih(YPK), sebuah panti penampungan anak yang diam-diam membangun jaringan dengan berbagai klinik bersalin.Banyak juga ‘klien’ YPK ini berasal dari manca negara yang ingin mengadopsi anak yang ada dip anti tersebut.

Afrinaldi kembali mencium adanya perdagangan anak oleh sebuah sindikat. Kecurigaan itu muncul ketika orang asing yang bernama Bill Webbs menelponnya dan ingin membicarakan tentang pengadopsian anak Indonesia yang bernama Tristan. Afrinaldi merasa curiga karena Tristan sudah pernah diadopsi oleh warga Irlandia yang bernama Joseph Dowse. Afrinaldi mendapatkan informasi bahwa Tristan kini berada pada Panti Immanuel. Lalu ia langsung menuju kesana. Sesampainya disana, ia mendapatkan jawaban yang sangat mengecewakan. Seorang perempuan asing bernama Ester mengatakan bahwa dipanti itu tidak ada yang bernama Tristan. Dengan ciri-ciri yang sama hanya ada anak yang bernama Erwin.

Afrinaldi pun merasa ada sesuatu yang ganjal dengan panti itu. Panti itu tidak memiliki surat ijin dari Dinas Sosial.Suatu ketika ada seorang wartawan Irlandia yang bernama Marianne yang ditugaskan kantornya untuk mengadakan riset tentang anak-anak Indonesia yang diadopsi oleh warga negara Irlandia, kemudian ditelantarkan, termasuk kasus Tristan ini.Akhirnya Ia juga membantu mencari informasi mengenai Tristan.Suatu ketika Marianne mendapatkan surat putusan pengadilan tentang adopsi Tristan oleh Joseph Dowse.Tristan lahir di Jakarta, 26 Juni 2001 dari seorang perempuan bernama Suryani.Joseph Dowse tercantum sebagai orang tua adoptan dan Rosdiana sebagai saksi.Siapa Rosdiana itu? Afrinaldi bertanya-tanya dan mencari informasi tentang Rosdiana.

Rosdiana ternyata seorang perempuan yang memperjualkan bayi dan anak kepada warga asing termasuk Tristan. Banyak orang asing yang telah mengetahui tentang itu. Warga sekitar juga semuanya telah tahu tentang itu. Banyak warga yang tidak mampu memberikan anak atau bayi mereka kepada Rosdiana.Rosdiana memberikan banyak janji-janji jika warga sekitar memberikan anaknya kepadanya. Rosdiana tidak berkerja sendiri. Dia dibantu dengan anaknya dalam proses penjualan anak, pembuatan akte, dan persyaratan lainnya agar anak tersebut dapat diadopsi oleh warga asing.Rosdiana mempunyai banyak saudara dikalangan kepolisian maupun pejabat tinggi lainnya yang melancarkan perdagangan anak yang ia lakukan.

Namun berkat Afrinaldi, Rosdiana beserta anaknya berasil ditangkap. Dengan Rosdiana ditangkap maka Tristan kini berada di tangan Afrinaldi dan Depsos. Sebelum Rosdiana ditangkap, Suryani pernah mendatangi tempat Rosdiana untuk mengambil kembali anaknya. Namun sayangnya anaknya yang diberi nama Tristan telah diadopsi oleh warga Irlandia yang bernama Joseph Dowse.Suryani pun pulang kembali ke kampungnya.Keluarga tidak langsung menerimanya, namun lambat laun hati mereka luluh dan akhirnya Suryani diterima kembali dikeluarganya. Selama 1 tahun Tristan dirawat oleh Joseph Dowse.Mereka merawat Tristan karena istri Joseph memiliki masalah kesuburan yang membuat mereka susah mempunyai anak, sehingga mereka mengadopsi Tristan.Namun setelah satu tahun istri Joseph pun hamil dan akhirnya Tristan dititipkan dipanti asuhan Emmanuel.

Anak dan ibu itu pun berhasil dipertemukan kembali walaupun saat pertama bertemu dengan ibunya, Tristan masih menghindar dari ibunya.Namun lambaut laun anaknya itu semakin dekat dengan rencana yang telah dirancang oleh Afrinaldi untuk makin mendekatkan kembali anak dan ibu itu.Mereka pun kembali ke kampung mereka. Kasus Tristan ini sudah terkuak di pengadilan dan Suryani serta Tristan mendapatkan santunan dari Joseph Dowse sehingga Suryani merasa senang mendengar hal itu. Namun ia juga berpikir bahwa tahun mendatang akan memekan biaya yang tak sedikit sehingga ia pun mulai merintis usaha kecil-kecilan demi mas depan Tristan.Kisah ini memeng terlalu kecil untuk membuat perubahan besar. Namun paling tidak, kiranya Tristan dan kisahnya dapat sekedar membelalakan mata bahwa anak-anak bangsa ini, anak-anak kita, masih diperdagangkan, entah sampai kapan.

Suryani  merupakan seorang pengemis yang hanya meminta belas kasihan teman-teman serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Suryani berasal dari tegal. Setiap hari kerjanya hanya meminta-minta serta merepotkan orang saja.Suatu kejadian pun terjadi pada Suryani, Suryani pun hamil.Kini ia sedang mengandung.Dengan ia mengandung seorang anak hasil di luar pernikahan, makin menambah cobaan yang diterima Suryani.Kini ia harus mencari biaya melahirkan anaknya itu dengan mengemis dan meminta belas kasihan orang-orang.

Awal dari kejadian ini adalah  saat ia masih bekerja disebuah pabrik garmen. Ia merupakan satu dari ribuan buruh-buruh yang bekerja serentak bak robot, menjahit helai demi helai jaket yang akan dikirim ke Jepang atau Malaysia.Pukul sepuluh malam baru ia pulang, ketika oaring-orang sudah bersemayam di balik selimut.Tak jarang pemuda-pemuda gang tempat ia tinggal di Pondok Cabe, Ciputat, mengatainya kupu-kupu malam.

Yani tekun, menunggu rupiah demi rupiah yang tak seberapa setiap tanggal 5 dan 20 tiba bulan itu dan bulan-bulan kemarin. Wajah garang pemilik pemilik kontrakan yang menagih sewa, tadah tangan sanak saudara serta keluarga di desa, perut yang terus bersuara, hanya itu yang ada di benaknya setiap bulan.Selebihnya, Supardi. Ia sopir yang selalu bangga membawa taksi hingga ke depan pintunya, seolah milik sendiri. Parasnya tampan meski dengan tubuh agak gemuk. Yang paling mempesona adalah sikapnya yang ramah lagi dewasa. Setiap kali berpapasan, lelaki itu selalu memangil Yani dengan sebutan ‘dek’ plus tekanan yang khas pada huruf ‘D-nya’. Mereka selalu berpapasan dan mereka saling jatuh hati. Lalu mereka bersatu hingga ke balik pintu, memori manis sekaligus pahit yang ingin Yani kubur dalam-dalam. Sapardi masih khas tekanan bicaranya ketika mengucap kata ‘tanggung jawab’ sehabis mereguk kenikmatan tak pantas itu. Suryani dan Supardi pun bersetubuh malam itu.

Malam itu dan malam-malam setelahnya, lelaki itu selalu berbisik kepada perempuan di pelukkannya tentang keluarganya dilampung yang akan segera ia beri tahu dan tentang keinginannya untuk segera menyunting perempuan itu. Bercerita pula ia tentang tabunganya yang mulai bertambah, tentang keinginannya untuk melibatkan perempuan itu dalam melukis hari depannya. “Aku menyayangimu, Dek,” suaranya masih mantap sekalipun persetubuhan itu sudah berulang. Perempuan itu semakin larut dalam percayanya. Suryani percaya seratus persen kepada Supardi bahwa ia akan bertanggung jawab jikalau Suryani mengandung dan hamil.

“Mas, aku mengandung anakmu. Sudah tiga minggu aku telat,” Suryani tidak melanjutkan kalimatnya yang bingung, berharap lelaki itu mengerti keinginan hatinya. Tapi Supardi berkelit. Ia harus bekerja, katanya. Problem ini terlalu pelik untuk dibicarakan sekarang. Yani terima saja ketika lelaki itumenghilang dengan taksinya setelah berjanji akan membicarakannya jika esok tiba. “Aku harus ke Pekan Baru, Dek. Ada panggilan kerja. Tiga hari aku kembali,” ia bicara, sehari setelah Yani bertutur tentang kehidupan yang mulai tumbuh di dinding rahimnya. Tiga hari itu kini telah menjadi tiga hari yang keseribu yang Yani tunggu, namun laki-laki itu tak pernah sekalipun datang dan menengok kabar Suryani.

Lama ia menanti ayah janinnya itu sampai akhirnya tiba saat di mana ia memutuskan untuk berhenti menunggu. Sejak it uterus terjadi pergulatan batin, bahkan kedua tanganya tak pernah lagi berani tengadah untukmeminta.Wajahnya tak pernah lagi memandang ke atas dan memohon. Mulutnya terkinci dan tak tega mengucap doa. Hatinya meraung mengharap ampun, tetapi ia merasa terlalu hitam untuk menjawab panggilan azan. Yani hanya mengucap nazar: mudigah yang berdenyut dirahimnya akan ia pelihara dengan cinta, akan ia besarkan dengan saying.

Ketika Suryani telah hamil tua, ia pun tergeletak pingsan dipinggir jalan dan ditolong seseorang untuk mengantarkannya ke rumah sakit.Ketika sadar, ia merasa bingung mengapa ia ada di rumah sakit.Seorang suster pun datang dan bertanya “Bagaimana keadaan ibu saat ini?” suster itu menjelaskan bahwa Suryani telah pingsan dan kandunganya sempat terbentur sehingga air ketubannya pecah.Suster juga mengatakan bahwa Suryani harus melahirkan dan menanyakan jaminan Biaya untuk melahirkan anaknya itu.Suryani pun menjawab bahwa ia tidak punya uang, tetapi ia memohon-mohon kepada suster agar ia tetap melahirkan anak itu.

Suster itu pun bertanya apakah Suryani ada saudara untuk membantunya dalam biaya melahirkan ini. Suryani pun menjawab bahwa ia tidak ada saudara dan ia juga tidak memiliki surat keterangan orang miskin, jadi ia tidak punya jaminan apa pun.Namun suster tersebut memberikan sebuah solusi, bahwa ada seorang ibu yang ingin membantu Suryani dengan sebuah syarat yang di ajukan ibu tersebut.

Keesokan harinya ibu itu pun menemui Suryani. Suster pun mengantar ibu itu untuk menemui Suryani. Suryani pun merasa senang atas kedatangan ibu yang bagaikan ‘malaikat’ bagi Suryani.Suryani pun mengungkapkan rasa berterimakasihnya dengan mau melakukan dan memenuhi persyaratan apa pun.Ibu itu pun merespon dengan baik, namun ia agak berat untuk mengatakan persyaratan yang telah ia buat. Dengan berat hati ibu itu menyampaikan syaratnya bahwa ketika anak itu lahir, anak itu akan menjadi milik ibu itu.Ketika mendengar hal itu Suryani merasa bingung.Pergolakan batin pun terjadi.Ia tak penah menyetujuinya, namun dengan sedikit anggukan sudah memberikan jawaban bagi ibu itu.

Afrinaldi merupakan seorang pria ‘milik’ negara yang peduli dan terusik untuk membongkar beberapa jaringan perdagangan anak Indonesia. Banyak sindikat perdagangan anak yang telah dibongkar olehnya seperti sindikat perdagangan anak yang mengenakan jubah Yayasan Pancaran Kasih(YPK), sebuah panti penampungan anak yang diam-diam membangun jaringan dengan berbagai klinik bersalin.Banyak juga ‘klien’ YPK ini berasal dari manca negara yang ingin mengadopsi anak yang ada dip anti tersebut.

Afrinaldi kembali mencium adanya perdagangan anak oleh sebuah sindikat. Kecurigaan itu muncul ketika orang asing yang bernama Bill Webbs menelponnya dan ingin membicarakan tentang pengadopsian anak Indonesia yang bernama Tristan. Afrinaldi merasa curiga karena Tristan sudah pernah diadopsi oleh warga Irlandia yang bernama Joseph Dowse. Afrinaldi mendapatkan informasi bahwa Tristan kini berada pada Panti Immanuel. Lalu ia langsung menuju kesana. Sesampainya disana, ia mendapatkan jawaban yang sangat mengecewakan. Seorang perempuan asing bernama Ester mengatakan bahwa dipanti itu tidak ada yang bernama Tristan. Dengan ciri-ciri yang sama hanya ada anak yang bernama Erwin.

Afrinaldi pun merasa ada sesuatu yang ganjal dengan panti itu. Panti itu tidak memiliki surat ijin dari Dinas Sosial.Suatu ketika ada seorang wartawan Irlandia yang bernama Marianne yang ditugaskan kantornya untuk mengadakan riset tentang anak-anak Indonesia yang diadopsi oleh warga negara Irlandia, kemudian ditelantarkan, termasuk kasus Tristan ini.Akhirnya Ia juga membantu mencari informasi mengenai Tristan.Suatu ketika Marianne mendapatkan surat putusan pengadilan tentang adopsi Tristan oleh Joseph Dowse.Tristan lahir di Jakarta, 26 Juni 2001 dari seorang perempuan bernama Suryani.Joseph Dowse tercantum sebagai orang tua adoptan dan Rosdiana sebagai saksi.Siapa Rosdiana itu? Afrinaldi bertanya-tanya dan mencari informasi tentang Rosdiana.

Rosdiana ternyata seorang perempuan yang memperjualkan bayi dan anak kepada warga asing termasuk Tristan. Banyak orang asing yang telah mengetahui tentang itu. Warga sekitar juga semuanya telah tahu tentang itu. Banyak warga yang tidak mampu memberikan anak atau bayi mereka kepada Rosdiana.Rosdiana memberikan banyak janji-janji jika warga sekitar memberikan anaknya kepadanya. Rosdiana tidak berkerja sendiri. Dia dibantu dengan anaknya dalam proses penjualan anak, pembuatan akte, dan persyaratan lainnya agar anak tersebut dapat diadopsi oleh warga asing.Rosdiana mempunyai banyak saudara dikalangan kepolisian maupun pejabat tinggi lainnya yang melancarkan perdagangan anak yang ia lakukan.

Namun berkat Afrinaldi, Rosdiana beserta anaknya berasil ditangkap. Dengan Rosdiana ditangkap maka Tristan kini berada di tangan Afrinaldi dan Depsos. Sebelum Rosdiana ditangkap, Suryani pernah mendatangi tempat Rosdiana untuk mengambil kembali anaknya. Namun sayangnya anaknya yang diberi nama Tristan telah diadopsi oleh warga Irlandia yang bernama Joseph Dowse.Suryani pun pulang kembali ke kampungnya.Keluarga tidak langsung menerimanya, namun lambat laun hati mereka luluh dan akhirnya Suryani diterima kembali dikeluarganya. Selama 1 tahun Tristan dirawat oleh Joseph Dowse.Mereka merawat Tristan karena istri Joseph memiliki masalah kesuburan yang membuat mereka susah mempunyai anak, sehingga mereka mengadopsi Tristan.Namun setelah satu tahun istri Joseph pun hamil dan akhirnya Tristan dititipkan dipanti asuhan Emmanuel.

Anak dan ibu itu pun berhasil dipertemukan kembali walaupun saat pertama bertemu dengan ibunya, Tristan masih menghindar dari ibunya.Namun lambaut laun anaknya itu semakin dekat dengan rencana yang telah dirancang oleh Afrinaldi untuk makin mendekatkan kembali anak dan ibu itu.Mereka pun kembali ke kampung mereka. Kasus Tristan ini sudah terkuak di pengadilan dan Suryani serta Tristan mendapatkan santunan dari Joseph Dowse sehingga Suryani merasa senang mendengar hal itu. Namun ia juga berpikir bahwa tahun mendatang akan memekan biaya yang tak sedikit sehingga ia pun mulai merintis usaha kecil-kecilan demi mas depan Tristan.Kisah ini memeng terlalu kecil untuk membuat perubahan besar. Namun paling tidak, kiranya Tristan dan kisahnya dapat sekedar membelalakan mata bahwa anak-anak bangsa ini, anak-anak kita, masih diperdagangkan, entah sampai kapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s